Gambar

(bandung, 1 juli 2013 08:03 WIB)

Sekian banyak masalah-masalah yang timbul dalam dunia pertekstilan membuat cemas masyarakat dan perusahaan tertentu khususnya padat karya. Misalnya masalah yang paling hangat beberapa diantaranya yaitu:

  1. Industri tekstil semakin sulit mencari tenaga kerja yang terampil dalam bidang pertekstilan (http://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Diterpa_Isu_Sunset_Industry__Sektor_Tekstil_Sulit_Cari_Tenaga_Kerja_&level2=&level3=&level4=&id=1154428&urlImage=)
  2. Dalam politik. menurut Ketua Umum API, Ade Sudrajat (koranwawasan) meminta pada 2013 pemerintah bisa mengendalikan unjuk rasa tentang pengupahan yang telah menjadi ajang pertarungan politisi karena tidak ada investor yang ingin diganggu stabilitas produksinya dalam melayani para pembelinya di luar negeri. “Aturan pengupahan sudah sangat jelas di Indonesia ini, tetapi seiring dengan Pilgub Jabar isu ketenagakerjaan sering dijadikan isu yang seksi untuk di obok-obok,” tegasnya. (SPC-20/bisnis-jabar) (http://suarapengusaha.com/2012/12/21/2013-pengusaha-tekstil-yakin-ekonomi-jabar-tumbuh-6/#sthash.tSvOHoW7.dpuf ). Dsb

Melihat hal itu, jika kita kritisi. Yang jadi permasalahannya adalah “jumlah dan kualitas sumber daya manusia bidang”, kita spesifikasikan kembali terhadap kualitas SDMnya saja. Kita selidiki kembali, apabila kualitas SDMnya rendah maka kembali kepada tempat pembentukan SDMnya yaitu kampus tekstil. Faktor-faktor  rendahnya SDM dalam kehidupan kampus tekstil khususnya di Indonesia bisa saja dari faktor mahasiswa, dosen dan kebijakan kampusnya sendiri.

Apabila dosen yang mengajar kurang kompeten, maka bisa sangat berpengaruh untuk mencetak SDM yang tidak berkualitas. Apabila di kalangan mahasiswa kurang semangat juang untuk belajar dan menjadi yang terbaik dan standar IQ mahasiswa untuk dapat mengikuti pelajaran tentang pertekstilan rendah, maka bisa dipastikan dapat menimbulkan lulusan yang kurang maupun tidak berkualitas sehingga bisa menimbulkan masalah seperti poin isu-isu diatas. Lalu dalam kebijakan kampusnya sendiri, dan ini masih ada hubungannya dengan mahasiswa karena kampus-mahasiswa saling timbal balik, apabila kita perhatikan dan teliti secara seksama sehingga terjadi poin isu-isu diatas, yang menjadi akar permasalahannya yaitu dari penyeleksian mahasiswa baru. Kita bisa membandingkan dengan universitas-universitas yang telah diakui seperti ITB, UNPAD, UPI, UGM, UI, dsb, langkah awal mereka yaitu lebih mengetatkan penyeleksian calon mahasiswa baru sehingga hasilnya terbukti hingga sekarang terhadap lulusan-lulusannya.

Jadi, untuk menyelesaikan masalah poin isu-isu di atas yaitu memperbaiki lulusan-lulusan tekstil dengan cara memperbaiki di lingkungan dosen, mahasiswa dan kebijakan kampus dengan langkah paling awal yang mendasari itu semua yaitu kampus agar lebih mengetatkan penyeleksian calon mahasiswa baru. Lebih baik indonesia melangkah 1 langkah kedepan daripada mundur beberapa langkah. (penulis : Muhamad Luthfianto, anggota FLMPI STT TEKSTIL)